BP4 DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN

BP4 DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Teks foto: Kebijakan

KEDUDUKAN DAN PERAN HUKUM BP4 DALAM PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN SERTA SEJARAH BP4

A.  Kedudukan  Hukum  Badan  Penasihatan  Pembinaan  dan  Pelestarian

 

Perkawinan (BP4)

1.   Pengertian BP4

BP4 adalah organisasi profesional yang bersifat social keagamaan sebagai mitra kerja Kementerian Agama dalam mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. BP4 (Badan Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) merupakan organisasi semi resmi yang bernaung di   bawah   Kementerian   Agama   bergerak   dalam   pemberian   nasehat perkawianan, perselisihan dan perceraian.[1]

Sebagai  lembaga  semi  resmi,  BP4  bertugas  membantu Kementerian Agama dalam meningkatkan mutu perkawinan dengan mengembangkan berbagai gerakan-gerakan untuk membentuk keluarga yang sakinah dan berpendidikan Agama di lingkungan keluarganya. Selain itu,  BP4  juga  bersifat  profesi, sebagai  penunjang  tugas  Kementerian Agama dalam bidang penasihatan, pembinaan dan pelestarian perkawinan menuju  keluarga  yang  sakinah,  yang  mempunyai  tujuan  mempertinggi mutu perkawinan guna mewujudkan keluarga sakinah yang kekal menurut ajaran Islam dan berasaskan Pancasila.[2]

Jadi pada dasarnya Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) itu dibentuk karena meningkatnya angka perceraian dan labilnya perkawinan yang disebabkan oleh kurangnya peran petugas NTR (Nikah  Talak  Rujuk)  dalam  kasus  perceraian  dan  kurang  efektifnya Pengadilan  Agama dalam  mempersulit  terjadinya  perceraian.  Secara tersetruktur  BP4  berkedudukan  dibawah  Kementerian  Agama,  dengan pusat di ibu kota Jakarta dan berada di profinsi sampai tingkat kecamatan.

2.   Sejarah BP4

BP-4  Langkah  Awal  di  Jawa  Barat. BP4 berdiri  sebagai  bentuk keprihatinan dan kepedulian terhadap kualitas perkawinan umat Islam di Indonesia.   Dari  berbagai   versi   disebutkan   istilah BP4 pertama   lahir di Bandung Provinsi Jawa Barat pada hari Ahad, tanggal 3 Oktober 1954 atas  inisiatif Arhata (Abdur Rauf  Hamidy),  almarhum  Kepala  Jawatan Urusan Agama Provinsi Jawa Barat saat itu. Pada hari dan tanggal tersebut diadakan musyawarah  atau  pertemuan yang dihadiri  sekitar  100  orang yang terdiri dari wakil-wakil instansi pemerintah, tokoh masyarakat, para 'ulama, para pimpinan organisasi sosial Islam dan nasional. Bertempat di Ruang Sidang DPRD kota Bandung dari  Jam 09:00 pagi sampai 13:00 WIB. Arhata sebagai      pimpinan      sidang    mengemukakan      konsep pembentukan organisasi BP-4 (Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian) yang bertujuan mempertinggi nilai perkawinan dan  mewujudkan  rumah tangga  bahagia,  dengan  berusaha  memberikan nasihat kepada khalayak ramai serta yang berkepentingan dalam soal-soal perkawinan, thalak dan rujuk dan memberikan nasihat perdamaian bagi suami isteri yang retak perkawinannya dan diancam perceraian. Alasan- alasan yang dikemukakan adalah angka perceraian yang semakin naik hingga mencapai angka sekitar 60 - 80% dibanding nikah dan rujuk. Dan banyaknya terjadi perkawinan anak-anak di bawah umur.

Selanjutnya        disepakati        dibentuk        organisasi        BP-4 dengan Arhata sebagai   Ketua   merangkap   formatur   susunan   pengurus lengkap berikut penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ ART). Pada tanggal 17 September 1956, Menteri Agama K.H. Muhammad Ilyas (menteri) (untuk membedakan dengan tokoh lain, yaitu  K.H.  Muhammad Ilyas  Ruhiat,  Rais  'Aam PBNU periode  1992  -1999) menerima dan menyambut baik Delegasi BP-4 Jawa Barat yang terdiri     dari: Arhata,     Ny. Dunah     Pardjaman,     dan     Ny. ThereKamarga menyampaikan  hasil-hasil  Konperensi  BP-4  Jabar  ke  I  yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 - 31 Agustus 1956 di Bandung yang juga  dihadiri  Gubernur  Jawa  Barat  saat  itu  Raden  Mohamad Sanusi Hardjadinata dan   juga   H.   S.   M. Nasaruddin   Latif mewakili   Menteri Agama. P-5 di Jakarta. Pada tanggal 7 Maret 1956 di Jakarta tercatat berdiri organisasi P-5 (Panitia     Penasihat     Perkawinan     dan     Penyelesaian Perceraian) sejenis dengan BP-4 di Jawa Barat. P-5 di dahului dengan terbentuknya SPP (Seksi Penasihat Perkawinan) tanggal 4 April 1954 atas gagasan  H.S.M. Nasaruddin  Latif,  almarhum  Kepala  Kantor  Urusan Agama di Jakarta Raya atas persetujuan Sekjen Kementerian Agama R.M. Kafrawi yang  kemudian  pada  tanggal  7  Maret  1956  yang  bertugas mendamaikan perselisihan suami isteri, yaitu mencegah perceraian sepanjang persoalannya belum dimajukan ke Pengadilan Agama dengan Ketua P-5 pertama, Ny.S.R. Poedjotomo.

BKRT     di     Yogyakarta.     Pada     tanggal     7     Maret     1958 di Yogyakarta dirintis     berdiri BKRT (Badan     Kesejahteraan     Rumah Tangga)  yang  tokohnya  antara  lain  Ibu  AR.  Baswedan,  K.H.Ahmad Badawi (saat itu Kepala Bagian Ibadah Sosial pada KUA Daerah Istimewa Yogyakarta), K.H. Farid Ma'ruf (saat itu Kepala KUA Daerah Istimewa Yogyakarta)yang kemudian menjadi Ketua Umum pertama BKRT.

BP4 bersifat Nasional. Pada bulan Januari 1960 dalam pertemuan Pengurus BP4 Tingkat I se-Jawa disepakati bahwa organisasi-organisasi BP4   yang   bersifat   lokal   akan   disatukan   menjadi BP4 yang   bersifat nasional. Kemudian hasil Konperensi Dinas Departemen Agama ke VII tanggal   25   -   30  Januari   1961   di   Cipayung   Jakarta   diumumkan berdirinya BP4 Pusat  (yang  bersifat  nasional).  Dalam  Anggaran  Dasar baru tersebut ditetapkan bahwa organisasi ini berkedudukan di Jakarta dan bertujuan: (1) Mempertinggi nilai perkawinan. (2) Mencegah perceraian yang sewenang-wenang. (3) Mewujudkan susunan rumah tangga yang bahagia sejahtera sesuai tuntunan Islam. Pada 17 Oktober 1961 sesuai usul

Pengurus BP4 Pusat    No.1/BP4/61,    keluar    Surat    Keputusan Menteri Agama No.85  tahun  1961  yang  menetapkan  BP4  sebagai  satu-satunya badan  yang   berusaha   pada   bidang   penasihatan   perkawinan   dan pengurangan perceraian mengenai nikah, talak dan rujuk. Dan tanggal 8

Juli 1961, menyusul SK Menteri Agama, hasil musyawarah antara Kepala Jawatan Urusan Agama dengan Pengurus BP4 Jawa Barat dan P-5 Jakarta Raya ditetapkan susunan Pengurus BP4 Pusat yang pertama dengan Ketua H. Siswosoedarmo dan    dilantik    oleh    Menteri    Agama    K.H.Wahib Wahab tanggal 20 Oktober 1961.[3]

Oleh karenanya, sebagai lembaga konsultan yang memberikan penasehatan keluarga, BP4 mempunyai kewajiban agar mampu menekan atau memperkecil angka perceraian dan juga dituntut mampu mensosialisasikan keeksistensian dan kualitasnya di masyarakat.

3.   Tujuan dan Visi Misi BP4 a.   Tujuan BP4

Tujuan Badan penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) sebagaimana yang telah ada dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) BP4 yaitu: “Mempertinggi mutu perkawinan guna mewujudkan keluarga sakinah menurut   ajaran   Islam   untuk   mencapai   masyarakat   dan   bangsa Indonesia yang maju, mandiri, bahagia, sejahtera, materiil dan spiritual”.[4]

b.   Visi dan Misi BP4

Adapun Visi dan Misi dari BP4 sebagai berikut: Visi BP4 adalah terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Sedangkan Misi BP4 adalah:

1)  Meningkatkan   kualitas   konsultasi   perkawinan,   mediasi,   dan advokasi;

2)  Meningkatkan   pelayanan   terhadap   keluarga   yang   bermasalah melalui kegiatan konseling, mediasi dan advokasi.

3)  Menguatkan kapasitas kelembagaan dan SDM BP4 dalam rangka mengoptimalkan program dan pencapain tujuan.[5]

     4.   Program-program BP4

     Untuk dapat melaksanakan visi dan misinya maka BP4 memiliki program-program organisasi unuk dijalankan. Program organisasi tersebut yaitu:

  1. Merespon organisasi sesuai dengan keputusan MUNAS BP4 ke XIV tahun 2009 di Jakarta.
  2. Melakukan  langkah  pemberdayaan  dan  peningkatan  kapasitas organisasi BP4 pada semua tingkatan organisasi
  3. Membentuk  pusat  penanggulangan  krisis  keluarga  (family  crisis center)
  4. Melaksanakan konsolidasi organisasi BP4 mulai dari tingkat pusat sampai   ke   tingkat   daerah   dengan   mengadakan   Musda   I,   II, Musyawarah Kecamatan dan Musyawarah Konselor dan Penasihat Perkawinan Tingkat Kecamatan, serta meningkatkan tertib administasi masing-masing jenjang
  5. Mengusahakan anggaran BP4 melaui jasa profesi penasihatan, dana bantuan Pemerintah, lembaga donor agensi nasional dan Internasional, swasta, infaq masyarakat, dan dari sumber lain yang sah sesuai dengan perkembangan kegiatan dan beban organisasi
  6. Mengupayakan payung hukum organisasi BP4 melalui undang-undang terapan  pengadilan  agama  bidang  perkawinan  dan  SKB  Menteri
  7. Agama, Menteri Dalam Negeri dan Mahkamah Agung
  8. Menyelenggarakan   evaluasi   program   secara   periodik   tiap   tahun melalui Rakernas
  9. Menyelenggarakan Munas BP4 XV tahun 2014 i.   Membuat wibsite BP4.[6]

Di  samping  program  organisasi  tersebut     di  atas,  masih  ada program-program lain yang terbagi dalam bidang-bidang dibawah ini yaitu[7]

a.   Bidang Pendidikan Keluarga Sakinah dan pengembangan SDM

  1. Menyelenggarakan orientasi Pendidikan Agamadalam keluarga, Kursus Calon Pengantin, Pendidikan Konseling Untuk Keluarga, Pendidikan  Remaja Usia Nikah, Pemberdayaan Ekonomi Keluarga, Upaya Peningkatan Gizi Keluarga, Reproduksi Sehat, Sanitasi Lingkungan,  Penanggulangan  Penyakit  Menular  Seksual  (PMS) dan HIV/AIDS.
  2. Menyiapkan kader motivator keluarga sakinah dan mediator permasalahan perkawinan.
  3. Menyempurnakan  buku-buku  pedoman  pembinaan  keluarga sakinah.

b.   Bidang Konsultasi Hukum dan Penasihatan Perkawinan dan Keluarga

  1. Meningkatkan   pelayanan   konsultasi   hukum,   penasihatan perkawinan dan keluarga di setiap tingkat organisasi
  2. Melaksanakan pelatihan tenaga mediator perkawinan bagi perkara- perkara di Pengadilan Agama
  3. Mengupayakan kepada Mahkamah Agung (MA) agar BP4 ditunjuk menjadi lembaga pelatih mediator yang terakreditasi
  4. Melaksanakan advokasi terhadap berbagai kasus-kasus perkawinan di masyarakat
  5. Mengupayakan rekrutmen tenaga profesional di bidang psikologi, psikiatri, agama, hukum, pendidikan, sosiologi, antropologi dan lain-lain.
  6. Menyusun  pola  pengembangan  SDM  yang terkait  dengan pelaksanaan kegiatan BP4
  7. Menyelenggarakan konsultasi jodoh pada para pencari pasangan yang ingin melangsungkan hubungan rumah tanggi
  8. Menyelenggarakan konsultasi perkawinan dan keluarga melalui telepon dalam saluran khusus (hotline), TV, Radio, Media Cetak dan Media elektronik lainnya
  9. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga lain yang bergerak pada bidang Penasihatan Perkawinan dan Keluarga
  10. Menertibkan buku tentang berbagai kasus-kasus Perkawinan dan Keluarga.

c.   Bidang Penerangan, Komunikasi dan Informasi

1)  Mengadakan  diskusi,  ceramah,  seminar/temu  karya  dan  kursus serta penyuluhan tentang

  1. Penyuluhan Keluarga Sakinah
  2. Undang-undang,  Perkawinan,  Hukum  Munakahat, Kompilasi Hukum Islam, undang-undang PKDRT dan undang-undang terkait lainnya
  3. Pendidikan Keluarga Sakinah.

       2)  Meningkatkan   kegiatan   penerangan   dan   motivasi   Pembinaan Keluarga Sakinah melalui:

  1. Media cetak
  2. Media elektronik c)  Media tatap muka
  3. Media percontohan/keteladanan

3) Mengusahakan agar majalah Perkawinan dan Keluarga dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

4) Meningkatkan  perpustakaan  BP4  di  tingkat  pusat  maupun  di tingkat daerah

d.   Bidang Advokasi dan Mediasi

  1. Menyelenggarakan advokasi dan mediasi
  2. Melakukan rekrutmen dan pelatihan tenaga advokasi dan mediasi perkawinan dan keluarga
  3. Mengembangkan kerjasama fungsional dengan MA, PTA dan PA. e.   Bidang Pembinaan Keluarga Sakinah, Pembinaan Anak, Remaja dan Lansia
  4. Menjalin   kerjasama   dengan   Pemerintah   Daerah,   Kantor Kependudukan/ BKKBN dan instansi terkait lainnya dalam penyelenggaraan  dan pendanaan   pemilihan   keluarga   sakinah teladan
  5. Menerbitkan  buku  tentang  Keluarga  Sakinah  Teladan  Tingkat Nasional
  6. Menyiapkan pedoman, pendidikan dan perlindungan bagi anak, remaja, dan lansia
  7. Melaksanakan orientasi pembekalan bagi pendidikan anak dalam keluarga
  8. Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan ksejahteraan anak, remaja dan lansia.[8]

B.  Peran    Hukum    Badan    Penasihatan    Pembinaan    dan    Pelestarian Perkawinan

BP4 sebagai satu-satunya lembaga di bawah Kementerian Agama yang mempunyai peran dalam meningkatkan mutu perkawinan. Peranan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa atau bagian yang  dimainkan  seseorang  dalam  suatu  peristiwa.[9] BP4  banyak  sekali mengalami metamorfosa, mulai dari bagaimana organisasi ini berdiri sampai pada penamaan yang dapat di himpun BP4 merupakan singkatan dari  Badan  Penasihat  Perkawinan  Perselisihan  dan  Perceraian,  hal  ini sesuai dengan Headline dalam Lampiran Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 1992. Kemudian dalam Keputusan Musawarah Nasional BP4 ke XIV tahun 2009 Nomor : 26/2- P/BP4/VI/2009 menjelma menjadi Badan Penasihat, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan.

Apapun kepanjangan BP4 memang sebuah organisasi yang sengaja di  hadirkan  sebagai  Badan  Semi  Resmi  atau  Bergerak  dalam  Tupoksi Kerja  Kepala KUA  dan  naik  secara  Vertikal  untuk  menjadi  sebuah gerakan untuk menekan angka perceraian, karena BP4 mempunyai cita- cita pokok yaitu “mempertinggi nilai-nilai perkawinan, mencegah perceraian sewenang-wenang, dan berusaha mewujudkan susunan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera”.

Menurut konsideran keputusan komisi A Munas BP4 XII poin (b) disebutkan bahwa BP4 adalah lembaga semi resmi yang bertugas membantu  Kementerian  Agama  dalam meningkatkan mutu  perkawinan dengan  mengembangkan  keluarga  sakinah  dan  memberikan  bimbingan dan penasehatan mengenai nikah, talak, cerai dan rujuk kepada masyarakat baik perorangan maupun kelompok.

Berdasarkan  Undang-undang  No.1  Tahun  1974  Tentang Perkawinan Pasal 113 yang berbunyi “perkawinan dapat putus karena (a) kematian, (b) perceraian, dan (c) atas putusan pengadilan.”[10] Dalam poin b yang dijelaskan pada Pasal 114 “putusnya perkawinan yang disebabkan karena  perceraian  dapat terjadi  karena  talak  atau  berdasarkan  gugatan perceraian” dan Pasal 115 “perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”. Ketidakberhasilan mendamaikan kedua belah pihak yang bermasalah dalam sebuah hubungan rumah tangga merupakan tugas dan fungsi dari BP4 sebelum para pihak datang langsung ke Pengadilan Agama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa BP4 merupakan organisasi atau badan yang salah satu tugas dan fungsinya yaitu mendamaikan suami istri yang bersengketa atau berselisih atau dalam hal- hal tertentu memberi nasehat bagi calon pasangan suami istri yang akan melangsungkan perkawinan. Badan ini telah mendapat pengakuan resmi dari pemerintah yaitu SK Menteri Agama No.85 Tahun 1961, yang menetapkan BP4 sebagai satu-satunya badan yang berusaha pada bidang penasehatan perkawinan dan pencegahan perceraian.[11]

Setelah  diterbitkannya  Surat  Keputusan  Menteri  Agama  No.  85 Tahun 1961, Secara historis tugas tersebut setidak-tidaknya telah melekat pada  BP4  sejak  tahun  1960-an.  Yaitu  dengan  upaya-upaya  penurunan angka   perceraian   dan   peningkatan   mutu   keluarga   sakinah   adalah merupakan sebagian tugas dari BP4.

Oleh karenanya, sebagai lembaga yang memberikan konsultasi dan penasehatan pada keluarga, BP4 mempunyai kewajiban agar mampu memperkecil atau menekan angka perceraian, juga dituntut mampu mensosialisasikan keeksistensian serta kualitasnya pada masyarakat.

Adapun alasan yang menjadikan dibentuknya BP4 adalah dengan dicantumkannya dalam mukaddimah anggaran dasar BP4,  yaitu: dalam

firman Allah SWT yang berbunyi:

Artinya:   “Dan   di   antara   tanda-tanda   kekuasaan-Nya   ialah   Dia

menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepada-Nya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21).[12]

Kesimpulan yang dapat diambil dari ayat   di atas adalah adanya alasan-alasan yang ada di dalamnya, pertama, membentuk keluarga yang kekal  di  mana  Allah  menciptakan  pria  dan  wanita  dalam  hubungan keluarga atau sebuah perkawinan yang menumbuhkan ketentraman dan kasih sayang satu dengan yang lain. Dengan demikian, ketentraman, rasa kasih sayang dan sayang adalah tiga serangkai yang harus tumbuh dalam perkawinan,   dan   BP4   ingin   memelihara   hidup   suburnya   nilai-nilai tersebut.[13]

Kedua, bahwa terwujudnya rumah tangga sejahtera dan bahagia diperlukan adanya bimbingan yang terus menerus dan tiada hentinya dari para korps penasehat.

Ketiga, diperlukan adanya korps penasehatan perkawinan yang berakhlak tinggi, berbudi dan berhati nurani yang bersih, sehingga mampu melaksanakan tugas dengan baik.

Ketiga  alasan  ini  merupakan  motivasi  berdirinya  BP4,  seluruh aparat dan pelaksana BP4 dalam tiap kesempatan tugasnya harus menjiwai dan menghayati ketiga motivasi ini dan memberi arah dalam suatu susunan organisasi  yang  dilengkapi  sejumlah  ketentuan,  sehingga  diharapkan keteraturan dalam pelaksanaan tugas yang lebih baik.[14]

Menurut Arso Sasroatmojo dan A. Wasoit Aulawi mengatakan bahwa  penerangan  agama  dan  BP4  akan  sangat  berjasa  bila  secara sederhana  setiap  warga  negara  setidak-tidaknya  yang  berkepentingan mengerti  isi  pokok  dari  Undang-Undang  Perkawinan  serta  peraturan pelaksanaannya.[15]

Selain itu BP4 juga berfungsi sebagai mitra dari KUA dan PA, dimana hubungan ketiganya bersifat paralel. Adapun keterkaitan KUA dengan PA adalah dalam hal jabatan kepala KUA yang merangkap langsung sebagai ketua BP4 Kecamatan. Kemudian data perkawinan yang tercatat dalam buku register dikirim ke Pengadilan Agama, bagi anggota masyarakat  yang akan mengajukan talak atau cerai Pengadilan Agama mudah untuk meneliti data yang sebenarnya. Pengadilan Agama mengirim tembusan kepada Kantor Urusan Agama setempat. Sedangkan hubungan antara BP4 dengan PA adalah apabila BP4 mendapatkan pasangan klien yang  ridak  bisa  didamaikan,  kedua  belah  pihak  baik  suami  dan  istri sepakat untuk melalukan perceraian, maka BP4 membuat berita acara ke Pengadilan Agama, yang tembusannya kepada Kantor Urusan Agama.

Jadi secara teoritis fungsi dari BP4 sendiri adalah dengan menitikberatkan perannya pada usaha/upaya untuk memelihara keutuhan rumah tangga dan mengantarkannya kearah kebahagiaan serta kehidupan yang sejahtera. Sedangkan secara praktis fungsi BP4 adalah sebagai lembaga yang bersifat nasional dan sekaligus sebagai penunjang sebagaian tugas dari Kementerian Agama yang berperan serta berfungsi dalam memberikan  upaya-upaya  penasehatan  perkawinan,  perselisihan, perceraian yang seluas-luasnya bagi masyarakat sehingga terbentuk rumah tangga yang diharapkan.

Sedangkan tugas-tugas dari BP4 adalah:

  • Memberikan nasehat penerangan dan tuntunan kepada yang berkepentingan  mengenai  masalah  Nikah,  Talak, Cerai,  dan  Rujuk (NTCR)
  • .Mengadakan upaya-upaya yang dapat memperkecil jumlah perceraian.
  • Memberikan bantuan moril dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan perkawinan dan hubungan kerumah tanggaan secara umum.

 

[1] Harun  Nasution,  et  al  (ed),  Badan  Penasehatan  Perkawinan  Perselisihan  dan Perceraian, Ensiklopedia Islam, Jakarta: Depag RI, 1993.cet. ke-1, jilid 1, h. 212

[2] Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4), Hasil Munas Ke XI, 1998. Jakarta: BP4 Pusat, h. 1

[4] Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4),  Hasil Munas KeXIV, 2009. Jakarta: BP4 Pusat, h. 5

[5] Ibid, h. 14  

[6] Ibid

[7] Ibid, h. 16-18

[8] Ibid.

[9] Tim  Penyusun  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 1994

[10] Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, cet ke 3, Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2012, h. 34

[11] Zubaidah  Muchtar,  Fungsi  dan  Tugas  BP4:  Nasehat  Perkawinan  dan  Keluarga, Jakarta: Maret 1993, XXI, h. 36

[12] Yayasan   Penyelenggara   Penerjemah   Al-Qur?an,   Al-Qur’an   dan   Terjemahnya, Semarang: CV. ALWAAH, 1995, h. 644

[13] Djazuli   Wangsa   Saputra,   Peranan   BP4   dan  Lembaga  Konsultasi   Perkawinan Keluarga: Nasehat Perkawinan dan Keluarga, XV, No. 187, januari 1998, h. 8

[14] Ibid, h. 9

[15] Asro Sasroatmojo dan A. Wasit  Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 44

 


Baca Juga


Tulis Komentar