Konseling


Seluruh Konseling yang masuk akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Konseling yang mengandung unsur sara, hoax, pornografi, spam, ujaran kebencian, atau link tidak bermanfaat akan kami hapus.

Untuk pertanyaan, keluhan, masukan atau saran, silahkan disampaikan/ditulis dengan cara mengklik Isi Form Konseling diatas. Terimakasih.

  • Kamis, 09 Mei 2019 Dwi Jayati says :

    Pada bln okt thn lalu suami saya berzina dgn istri org, mereka mlkukannya di balikpapan (daerah domisili wanita tsb dan suaminya).saat itu suami izin dgn saya blg dia pltihan di bandung slma 4 hari.kbohongannya saya kthui pada bln nov, stlh suami prmpuan itu mghubungi saya.saat ini saya dan suami dlm proses prceraian, suami mnta dbri ksmptn, tp dgn syrt saya tdk mmbahas ttg prslgkuhannya lg.saya bingung,krna suami sprti mggnggp prslgkuhannya bknlah kslhn yg besar.saat diajak konseling ke kua dia menolak, bgitu jg ke pemuka agama.pdhl saya mrsa blm smbuh jika mslh itu blm dibahas tuntas.mnrt ibu apkh saya hrs bercerai atau tdk?        

    • Admin says :

      Salam buat Saudari.

      Mengenai persoaalan yang saudari alami kami berpendapat:

      Tidak ada satu pun orang yang berharap memiliki suami atau istrinya selingkuh. Dan saya yakin tidak ada wanita yang berharap seperti itu. Tapi, seandainya seorang wanita mendapatkan musibah seperti itu, apa yang harus ia lakukan?

      Pertama:
      Dalam syariat yang disucikan ini telah diketahui secara pasti akan keharaman zina dan bahwasanya itu termasuk dosa besar. Karena itu, orang yang terjatuh ke dalam dosa ini harus bertaubat kepada Allah sebelum waktunya terlambat. Dan haramnya perbuatan zina ini makin bertambah jika yang melakukannya adalah seorang pria yang sudah menikah. Karena itu hukuman bagi pelakunya adalah rajam hingga mati.

      Jika memang telah jelas suami terjerumus ke dalam perbuatan zina, baik itu dengan pengakuannya atau dengan bukti syari yang menunjukkan itu, maka nasehatilah ia agar bertakwa kepada Allah, ia harus segera menghentikan hubungan haram dengan wanita itu dan juga memperbanyak amal saleh serta bersemangat untuk mencari teman-teman baik yang bisa menunjukinya kepada kebaikan dan ketaatan serta mengingatkannya dari kejahatan dan kemaksiatan.

      kedua:
      Tidak boleh seorang wanita menikah dengan seseorang yang dikenal berbuat zina kecuali setelah ia bertaubat dengan jujur. Dan siapa yang menikah dengan seorang pria pezina, maka ia berdosa dan akad nikahnya pun batil. Dan siapa yang menikah dengan pria yang menjaga kehormatan (bukan pezina)lalu setelah menikah ternyata pria tersebut terjatuh ke dalam perbuatan zina, maka akadnya tidak batal hanya karena terjatuhnya ia ke dalam zina. Akan tetapi, bukan berarti seorang istri menerimanya sebagai suami jika ia tidak meninggalkan perbuatan zina tersebut.

      Karena itu, tentang masalah yang saudari tanyakan-, jika memang suamimu itu tidak menghentikan perbuatannya tersebut, maka jangan teruskan ikatan pernikahan dengannya. Bahkan, bersegeralah menghentikan ikatan pernikahan dengannya, baik dengan cara perceraian atau khulu' (perceraian atas permintaan istri dengan membayar sejumlah uang atau mengembalikan mahar yang diterimanya).

      Dan perlu ketahui, bahwa berlanjutnya seorang suami dalam berbuat zina memberikan efek negatif bagi keluarganya yaitu istrinya dan anak-anaknya dari sisi perilaku dan kesehatan. Karena itu, jangan pertaruhkan dirimu dengan terus bersamanya jika ia tidak berhenti dan meninggalkan kemaksiatannya.

      Berkata Ibnu Qudamah: "Sesungguhnya suami tidak bisa memaksa istrinya untuk menyusui anaknya dari selainnya dan tidak pula bisa memaksanya untuk membantunya  dalam perkara yang merupakan kekhususannya. "(Al-Mughni: 9/313)

      Dari Jabir bin Abdillah dari Rasulullah Beliau bersabda kepadanya, "Engkau sudah menikah? " aku (Jabir)menjawab, "Ya, sudah" Beliau bertanya lagi, "Dengan gadis atau janda? " Aku menjawab, "Dengan janda. " Beliau pun bersabda, "Mengapa engkau tidak menikahi gadis sehingga engkau bisa mencumbuinya dan dia pun bisa mencumbuimu? " Aku jawab, "Sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Karena itu, aku ingin menikahi seorang wanita yang bisa mengumpulkan, menyisir dan mengurus mereka. " (HR. Bukhari no. 1991 dan Muslim no. 715)

      Berkata An-Nawawi: "Dalam hadits ini terdapat dalil akan bolehnya seorang wanita membantu suaminya dan anak-anak suaminya serta keluarganya dengan keridaan darinya (wanita tersebut). Adapun tanpa keridaan darinya, maka tidak boleh. " (Syarh Shahih Muslim: 5/203)

      Berkata Waliyuddin Al-'Iraqi, "Dalam hadits ini terdapat dalil akan bolehnya seorang wanita membantu suaminya dan anak-anak suaminya dan juga saudara-saudara perempuan suaminya serta keluarganya. Dan juga dalil akan bolehnya seorang pria menikahi seorang wanita untuk tujuan itu, walaupun itu tidak wajib atas wanita. Hanya saja itu dilakukan sesuai keridaannya. " (Tharhu Ats-Tatsrib: 7/112)

      Kesimpulan dari apa yang kami sampaikan untuk saudari:

      Jika suamimu tidak bertaubat dan meninggalkan perbuatan zina, engkau harus berpisah dengannya dan meninggalkannya dan juga anaknya.

      Akan tetapi jika ia bertaubat dari perbuatan itu dan tampak bagimu bahwa ia menyesali apa yang telah ia perbuat serta kuat persangkaan saudari bahwa keadaan suami itu makin baik, maka tak mengapa saudari melanjutkan ikatan pernikahan bersamanya.

      Dan kami nasehatkan saudari untuk menolongnya dalam memperhatikan dan merawat anaknya dari hasil hubungan haram itu. Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan pahala karena sebab itu dan menggantikan bagimu kebaikan dari-Nya. Dan semoga anak ini kelak baik keadaannya dibandingkan yang merawatnya dan mendidiknya adalah orang-orang yang jauh dari agama

  • Sabtu, 09 Februari 2019 RJ says :

    assalamualaikum... Suami saya bersikeras ingin poligami, tapi saya tidak mau. Karena secara fisik saya masih mampu melayaninya, dan kami sudah memiliki seorang anak berumur 3 tahun. Perekonomian kami pun belum terlalu stabil, punya usaha tapi dengan modal pinjaman dan masih banyak tunggakan pinjaman yang belum dilunasi. Tapi didepan teman2nya dan orang2 di luar sana dia selalu bilang usahanya lancar, berhasil dan bisa beli mobil. Padahal itu mobil kredit dan hutang disana sini, karena suami saya orangnya royal. Suka nongkrong dan modalin teman2nya untuk makan2 diluar, meskipun saya memasak dirumah. Orang tua saya juga sudah menegaskan kepada suami saya untuk menceraikan saya kalau tetap bersikeras ingin poligami. Pernikahan kami sudah berjalan 4 tahun. Saya sudah berulang kali menjelaskan kepada suami kalau poligami itu tidak mudah, kalau salah menjalaninya berdosa karena 1 istri saja berat tanggungannya di akhirat apalagi 2. Tapi suami saya tetap bersikeras dengan keputusannya dan bilang dia pasti bisa berlaku adil. Orang tuanya juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menasehatinya. Pengetahuan agama suami saya masih minim sekali, jarang sholat, tidak puasa, tidak lancar baca Al-quran, padahal sudah sering saya mengajaknya mengaji tapi tidak mau. Saya menyuruhnya memilih saya atau perempuan itu? dan katanya dia tidak bisa memilih. Saya tidak mau dipoligami dan saya bilang lebih baik diceraikan saja dan katanya "baik kalau memang itu mau kamu, besok kita urus di pengadilan". Apakah ucapan suami saya itu termasuk Talaq?? Suami saya bilang kalau sudah bercerai saya disuruh pergi dari rumah (masih ngontrak) boleh bawa anak, usaha dia yang urus, nanti dia kasih belanja bulanan anak, karena saya yang lebih memilih cerai daripada poligami. Apakah memang seperti itu?? karena Usaha sama2 kami rintis berdua waktu awal menikah. Besoknya suami membawa saya ke pengadilan agama, dia masuk ke dalam untuk mengajukan perceraian sedangkan saya menunggu diluar. 20 menit kemudian suami saya keluar dan bilang pengajuan nya tidak selesai karena dia bingung mau bikin poin alasan perceraiannya apa dan ditegur sama pengurus didalam karena dikira main2 dengan pernikahan. Dan dia bilang sebenarnya dia tidak mau bercerai, dia hanya mengikuti keiinginan saya saja yang bilang ingin bercerai, karena katanya dia masih mencintai saya. Masalahnya sekarang dihati saya sekarang juga ada wanita lain, dan saya ingin menikahinya, itu katanya. Suami saya berjanji kalau dibolehkan poligami dia akan jadi suami yang sholeh, perhatian dan sayang sama saya dan anak. Bahkan dia pernah bilang tidak akan melarang saya kalau mau menikah juga sama laki2 lain kalau ada yang disukai, yang penting izinkan juga dia poligami. Saya sakit hati sekali mendengarnya. Jujur saya tidak mau dipoligami, saya sangat sedih mendengar keinginan2 suami saya yang sangat bertentangan dengan hati nurani saya sebagai istri. Tapi suami saya seperti tidak punya hati setiap hari membuat saya menangis. Keluarga besar saya juga mulai tidak menyukai suami saya karena keinginan2nya itu. Keluarga besar suami saya meminta saya untuk terus bersabar & bertahan. Mohon solusinya apa yang harus saya lakukan??? Apakah saya harus mempertahankan pernikahan tetapi setiap hari tertekan perasaan dengan keinginan2 yang diutarakan suami, atau bercerai?? - Terimakasih.

    • Admin says :

      Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuhu.

      Yang terhormat ibu RJ. 

      Semoga Ibu selalu diberikan yang terbaik oleh Allah SWT.

      Mengenai permasalahan ibu ini memang sering dialami oleh pasangan suami istri yang mulai berangsur mapan dalam persoalan ekonomi. Dalam hal ini biasanya suami yang merasa sudah cukup mapan perekonomiannya cenderung berfikir untuk melakukan poligami. Mereka merasa cukum mampu untuk membiayai keluarga lain yang ingin mereka bentuk. 

      Obsesi ini terkadang begitu kuat sehingga mereka terkadang tidak peduli apakah keinginan mereka ini menyakiti pasangannya tau tidak. Biasanya ibu akan selalu dirongrong dan disudutkan sampai ibu menyerah dan akhirnya mereka berharap ibu akan memerikan izin.

      Persoalan poligami secara hukum sudah diatur dalam UU No 1 Tahun 1974

      Syarat poligami diatur dalam UU Perkawinan Pasal 4 ayat 2 dan Pasal 5 ayat 1 dan 2. Isinya adalah

      • Pasal 4 ayat 2

      Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila

      1. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;
      2. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
      3. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
      • Pasal 5 ayat 1 dan 2

      (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

      ayat (1) Undang-undang harus dipenuhi syarat syarat sebagai berikut

      1. Ada persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
      2. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka;
      3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-isteri dan anak-anak mereka.

      (2) Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin diminta persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

      Di sejumlah pengadilan agama, syarat di UU Perkawinan tersebut diturunkan menjadi 12 syarat administratif yang terdiri dari

      1. Surat permohonan rangkap 4
      2. Fotocopy KTP pemohon, KTP istri pertama dan KTP calon istri
      3. Fotocopy kartu keluarga pemohon
      4. Fotocopy buku nikah pemohon
      5. Surat keterangan status calon istri dari desa, bila belum pernah menikah (bila pernah terjadi perceraian melampirkan fotocopy akta cerai)
      6. Surat keterangan penghasilan diketahui desa/instansi
      7. Surat ijin atasan bila PNS
      8. Surat pernyataan berlaku adil
      9. Surat pernyataan tidak keberatan dimadu dari istri pertama
      10. Surat pernyataan tidak keberatan dimadu dari calon istri
      11. Surat keterangan pemisahan harta kekayaan
      12. Membayar panjar biaya perkara

       

      Dalam syariat Islam persoalan poligami dijelaskan pada surah an-Nisa' ayat 3

      ?????? ???????? ?????? ??????????? ??? ???????????? ??????????? ??? ????? ????? ????? ??????????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ??????????? ???? ??? ???????? ?????????????? ??????? ????????? ?????? ?????????? ?

      "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya"

      Dengan demikian, syarat untuk menikahi empat wanita adalah keadilan, bukan keadilan dalam perkara yang terdapat dalam hati. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita di akhir ayat ini dengan firman-Nya, (????? ????????? ????? ????????? ) “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai).” Tetapi Allah tidak memerintahkan kepada kita supaya tidak menikahi empat wanita, karena apa yang terdapat dalam hati adalah kepunyaan Allah. Dia Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada kita bahwa kita tidak akan mampu ber-buat adil di dalamnya. Oleh karena itu, hendaklah masing-masing dari kita tidak cenderung melebihi kelaziman sehingga berdampak buruk kepada yang lainnya.

      Adapun jika tidak dapat berbuat adil dalam menjatah giliran malam, harta dan selainnya, maka sebaiknya dia -bahkan harus- mencukupkan satu wanita saja. Jika tidak, maka dia termasuk golongan yang disinyalir oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

      ???? ??????? ???? ????????????? ???????? ???????????? ????? ?????????? ????? ?????? ???????????? ??????? ?????? ????????? ???????? ???? ????????.

      “Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri lalu cenderung kepada salah satu dari keduanya dibandingkan yang lainnya, maka dia datang pada hari Kiamat dengan menarik salah satu dari kedua pundaknya dalam keadaan jatuh atau condong.

      Dalam riwayat lain:

      ??????? ????? ????????????? ????? ?????? ???????????? ????????? ???????.

      “Lalu dia condong kepada salah satu dari keduanya, maka dia datang pada hari Kiamat dalam keadaan sisi tubuhnya condong.”

      ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berucap, “Ya Allah, adapun hatiku, maka aku tidak bisa menguasainya. Adapun selain hal itu, aku berharap dapat berbuat adil.”

      Inilah bentuk keadilan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara isteri-isterinya. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihkan sebagian kami atas sebagian lainnya dalam hal menjatah untuk tinggal di sisi kami. Terkadang beliau mengelilingi kami semua, lalu beliau mendekati setiap isterinya tanpa persetubuhan, hingga beliau sampai kepada isterinya yang mendapat giliran pada hari itu lalu tinggal di sisinya.

      Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak bepergian, maka beliau mengundi di antara isteri-isterinya; mana di antara mereka yang keluar bagiannya, maka dia keluar bersama beliau. Dan beliau menjatah untuk tiap-tiap mereka malam dan siang harinya.

      Ketika seorang istri tahu kalau suaminya telah mendua, langkah apa yang sebenarnya harus diambil? Apakah langsung menuntut cerai, atau masih adakah cara lain untuk mempertahankan rumah tangga? Ini pendapat para pakar.


      1. Apakah Rumah Tangga Masih Layak Dipertahankan?
      Mempertahankan rumah tangga atau berpisah memang menjadi keputusan yang sangat sulit diambil begitu tahu pasangan telah mendua. Salah satu cara yang bisa jadi pertimbangan adalah mengenali tipe pasangan Anda seperti apa? Apakah dia benar-benar menyesali tindakannya dan sungguh-sungguh berjanji tidak akan mengulanginya? Atau memang sudah sifatnya yang cenderung untuk mendua?

      "Manusia kadang suka 'terpeleset', ketika dia benar-benar 'terpeleset' (dan bukan karena pembawaan karakter) maka bisa saja (hubungan) dipertahankan," ujar William July, penulis 'Confessions of an Ex Bachelor', seperti dikutip dari She Knows.

      Tapi ketika perselingkuhan atau kecenderungan untuk mendua sudah menjadi tabiatnya, dan terlebih lagi, terjadi tidak cuma sekali, maka pikirkan baik-baik termasuk konsekuensinya jika Anda ingin menggugat cerai. Namun terlepas dari apakah perbuatan itu baru sekali atau telah berulang kali dia lakukan, pastikan lagi apakah jauh lebih baik jika Anda berpisah atau mempertahankan rumah tangga.

      2. Bicarakan dengan Serius
      "Jika Anda memutuskan untuk bertahan, maka Anda perlu benar-benar membicarakannya kepada pasangan tentang apa yang terjadi dan mengapa hal itu bisa terjadi. Apa yang sebenarnya dia rasakan dan bagaimana perasaannya setelah peristiwa itu terjadi? Proses ini memang akan terasa sangat menyakitkan, tapi penting bagi Anda untuk mendengarkan penjelasannya," saran psikoterapis Vanessa Marin.

      Minta juga pasangan untuk mendengarkan Anda. Apa yang Anda rasakan setelah tahu telah dikhianati atau diduakan. Pasangan harus tahu bahwa apa yang dia lakukan menyakitkan Anda, dan harus mau memberikan waktu dan ruang bagi Anda untuk merenung. Misalnya untuk tidak bertemu dulu selama beberapa waktu.

      3. Tidak Bertemu Dulu
      Pisah rumah sementara waktu, seperti yang dilakukan Putri Aisyah begitu tahu Al Habsyi poligami, mungkin terkesan seperti menambah garam pada luka yang sudah menganga. Tapi tidak bertemu dan memutuskan kontak sementara bisa membantu Anda untuk merenung dan introspeksi hubungan, sekaligus memikirkan apa langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Tanpa adanya distraksi, Anda bisa memutuskan langkah terbaik dengan kepala dingin.

      4. Konseling
      Tidak sedikit pasangan yang enggan melakukan konseling ke teraping atau konsultan pernikahan, karena beranggapan masalah rumah tangga tidak seharusnya diumbar ke orang lain. Tapi ketika pembicaraan antara Anda dan pasangan sudah tidak bisa dibawa ke manapun, maka mendapatkan pandangan objektif dari seorang profesional mungkin diperlukan. Pihak ketiga ini akan menjembatani dua isi kepala yang berbeda, sekaligus mencegah adanya cekcok dan pertengkaran yang hanya akan menghabiskan energi tanpa menemukan solusi. Dengan adanya orang lain di antara mereka, pasangan yang menghadapi masalah perselingkuhan, atau masalah rumah tangga lainnya akan bisa berkomunikasi dengan cara yang lebih sehat.

      5. Bercerai
      Jika Anda tidak juga bisa melupakan dan memaafkan tindakan suami yang telah mendua, bahkan ketika sudah berbagai cara ditempuh selama berbulan-bulan, maka mungkin jalan satu-satunya adalah berpisah. Namun sebelumnya evaluasi terlebih dahulu dengan seksama, jika memang rumah tangga hanya akan menimbulkan sakit hati dan menurunkan kualitas Anda sebagai individu, perceraian, dengan sangat menyesal, merupakan cara terakhir yang bisa dilakukan.

      "Tanyakan pada diri sendiri apakah ini akan menjadi keputusan terakhir yang diambil bagi pasangan Anda. Bisakah Anda sembuh dari rasa sakit hati ini dan memaafkan? Kalau tidak, jangan teruskan hidup bersama dalam kemarahan dan/atau seseorang yang menyebabkan Anda sakit," saran Dr. Phil McGraw, seorang pakar kesehatan mental. 

  • Jumat, 25 Januari 2019 Dwi wulan says :

    Assalamualikum sya mau nnya buk. Untuk numpang screenning bisa gk? Sya nikahnya diduri. Apa sja syratnya dan kapan bisa dilaksanakan? Terima kasih

    • Admin says :

      Waalaikum salm ibu Dwi.

      Untuk pelaksanan Bimwin /Kursus pranikah bisa dilaksanakan pada BP4 yang ada di mana saja. 

      Jadi tidak ada masalah jika Ibu ikut di Kota Pekanbaru. 

      Untuk mengikuti kursus di Kota Pekanbaru, Ibu cukup menyiapkan:

      1. Fc Ktp yang sah masing-masing 1 lembar

      2. Pas Photo warna 3 x 4 masing-masing 2 lembar

      3. Membayar biaya kursus sebesar Rp. 150.000 / orang ( Rp. 300.000 / pasang )

      Pelaksanaan kursus di BP4 Kota Pekanbaru dua kali dalam seminggu, yakni pada hari Sabtu - Minggu dan pada hari Selasa - Rabu.

      Kegiatan kursus dimulai jam 7.15 WIB.

      Peserta diharap mendaftar paling lambat dua hari sebelum hari kursusu dilaksanakan

      Demikian semoga informasi ini bermanfaat.

  • Senin, 31 Desember 2018 Anisan Tiana talova says :

    Saya bru menikah selama 5 bln,, saya mau ajukan cerai, selama ini saya merasa tidak bisa menjadi istri yang baik, daripada saya menambah dosa dg tidak bisa menjalankan tugas saya dg baik saya memilih jln ini, di rumah tangga kami tidak ada hari tanpa ribut dan tidak ada jln keluar yg d peroleh,, semua yg saya rasa sudah saya katakan, saya ingin memperbaiki hubungan kami supaya lebih baik,, tapi suami saya tidak pernah mendengar kan, bahkan soal nafkah, saya diharuskan bekerja oleh suami untuk membiayai diri saya sendiri, dia cuma memberi makan mlm, krna saya tidak masak, karna saya tidak pernah d kasih duit sama dia,, bahkan saya tidak pernah tau letak dompet dia d rumah dimana, yg d kasih duit k saya cuma bayar rumah, selebihnya dia yg pegang, sampai akhirnya cekcok terakhir dia sudah pakai kekerasan, dengan ini saya rasa sudah cukup daripada makin lama makin parah kedepannya,, tlg dibantu solusi buat saya

    • Admin says :

      Asslamualaikum bu Anisa 

      Mohon maaf jika baru hari ini bisa kami jawab persoaaln ibum karna masalah teknis webside kami yang mengalami kendala. 

      Permasalahn yang ibu alami juga banyak dialami wanita lain. hal ini muncul disebabkan ketidak mengertian baik suami tau pun istri tentang hak dan kewajiban masing-masing. untuk itu kepada ibu dan suami dapat datang ke BP4 Kota Pekanbaru dalam upaya mediasi. tujuannya agar kedua belah pihak dapat memposisikan diri sesuai dengan ketentuan syariat. Karena dalam Islam nikah talak(cerai) dan rujuk ada ketentuannya yang mesti di ikuti. 

       

      Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.

      Hak Bersama Suami Istri

      • Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
      • Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
      • Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
      • Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

      Adab Suami Kepada Istri .

      • Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
      • Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
      • Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
      • Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
      • Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
      • Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
      • Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
      • Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
      • Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
      • Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
      • Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
      • Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
      • Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
      • Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
      • Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
      • Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
      • Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
      • Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

      Adab Isteri Kepada Suami

      • Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
      • Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
      • Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
      • Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
      1. Menyerahkan dirinya,
      2. Mentaati suami,
      3. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
      4. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
      5. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
      • Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
      • Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
      • Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
      • Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
      • Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
      • Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
      • Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
      • Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
      • Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
      • Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
      • Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

  • Jumat, 10 Agustus 2018 Anisa puspa sari says :

    Saya ingin konsultasikan ttg talak & perceraian. Saya sudah datang ke pengadilan agama dan disana saya d suruh mengujungi bp4, apakah saya bisa meminta no tlp tuk menghubungi bp4 ? Mohon maaf dan terima kasih

    • Admin says :

      Assalamualaikum Wr. Wb

      Kepada ibu Annisa  bisa di konsultasi via telp ke no 085271529000

      demikian terimakasih