Konseling


Seluruh Konseling yang masuk akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Konseling yang mengandung unsur sara, hoax, pornografi, spam, ujaran kebencian, atau link tidak bermanfaat akan kami hapus.

Untuk pertanyaan, keluhan, masukan atau saran, silahkan disampaikan/ditulis dengan cara mengklik Isi Form Konseling diatas. Terimakasih.

  • Minggu, 05 Juli 2020 surithalia says :

    Assalamualaikum Bpk/Ibu, Perkenalkan saya suri. saya mempunyai orangtua yang sedang ada masalah. Ayah saya sering kali berkata "cerai, menceraikan dan beliau ingin urus perceraian beliau dengan ibu saya" berulangkali beliau berkata seperti itu, dan beliau mengakui perkataannya sudah lebih dari 100 kali berkata seperti itu kepada kakak laki-laki ibu saya. yang saya pertanyakan adalah "apa hukumnya ayah saya berkata cerai sudah 100kali kepada ibu saya? apa sudah jatuh talak?" mohon pencerahannya terima kasih

    • Admin says :

      Waalaikumsalam Warahmatullahi wabarakatuhu.

      Semoga saudari  Surithalia selalu dirahmati Allah SWT.

      mengenai persoalan saudari dapat kami jelaskan senagai berikut;

      Menjawab pertanyaan saudari tentang ni maka kita akan lihat dari beberapa sisi dan konsekwensi hukumnya. Sebab pernyataan cerai jika diucapkan dengan beberapa gaya dan intonasi juga mempengaruhi hukum.

      apakah ucapannya mengandung unsur nyata, hanya ancaman atau kiasan..  Kita bahas dalam kontek hukumasal dalam  Islam, Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan UU no 1 tahun 1974

      1. ucapan nyata dengan kata "aku ceraikan kamu" (talak dengan lafadz siroh)

      Secarra syari ini sudah jatuh talak 1, dan berlaku masa iddah. Apabila mereka rujuk dengan sendirinya dalam masa iddah itu hukumnya sah rujuk, akan tetapi jika mereka hendak rujuk setelah melampaui masa iddah, maka hukumnya rujuk dengan akad nikah baru. 

      Talak dengan lafazh shorih (tegas) artinya tidak mengandung makna lain ketika diucapkan dan langsung dipahami bahwa maknanya adalah talak, lafazh yang digunakan adalah lafazh talak secara umum yang dipahami dari sisi bahasa dan adat kebiasaan. Contohnya seseorang mengatakan pada istrinya, “Saya talak kamu”, “Saya ceraikan kamu”, “Tak pegat koe (saya ceraikan kamu dalam bahasa Jawa). Lafazh-lafazh ini tidak bisa dipahami selain makna cerai atau talak, maka jatuhlah talak dengan sendirinya ketika diucapkan serius maupun bercanda dan tidak memandang niat. Intinya, jika lafazh talak diucapkan dengan tegas, maka jatuhlah talak selama lafazh tersebut dipahami, diucapkan atas pilihan sendiri, meskipun tidak disertai niat untuk mentalak. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya mengenai orang yang mentalak istri dalam keadaan main-main atau bercanda,

      ??????? ?????????? ????? ????????????? ????? ?????????? ???????????? ?????????????

      Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk

       

      Cerai karena talak dapat dilihat pengaturannya dalam Pasal 114 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991:

      “Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.”

      Sementara kalau merujuk Pasal 117 KHI, yang dimaksud tentang talak itu adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Lebih lanjut dalam Pasal 129 KHI diatur mengenai cara mengajukan talak kepada istri:

      “Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.”

      Artinya, talak yang diakui secara hukum negara adalah yang dilakukan atau diucapkan oleh suami di Pengadilan Agama. Sedangkan, talak yang diucapkan di luar Pengadilan Agama hanya sah menurut hukum agama saja, tetapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia karena tidak dilakukan di Pengadilan Agama.b. Secara Hukum positif dan KHI 

      2. Diucapkan secara kiasan (kinayah) Talak ini jatuh berdasarkan niat nya

      Talak dengan lafazh kinayah (kiasan) tidak diucapkan dengan kata talak atau cerai secara khusus, namun diucapkan dengan kata yang bisa mengandung makna lain. Jika kata tersebut tidak punya arti apa-apa, maka tidak bisa dimaksudkan cerai dan itu dianggap kata yang sia-sia dan tidak jatuh talak sama sekali. Contoh lafazh kinayah yang dimaksudkan talak, “Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu”. Kalimat ini bisa mengandung makna lain selain cerai. Barangkali ada yang memaksudkan agar istrinya pulang saja ke rumah, namun bukan maksud untuk cerai. Contoh lainnya, “Sekarang kita berpisah saja”. Lafazh ini pun tidak selamanya dimaksudkan untuk talak, bisa jadi maknanya kita berpisah di jalan dan seterusnya. Jadi contoh-contoh tadi masih mengandung ihtimal (makna lain). Untuk talak jenis ini perlu adanya niat. Jika diniatkan kalimat tadi untuk maksud talak, jatuhlah talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      ???????? ??????????? ?????????????

      Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”

      Jika talaknya hanya dengan niat dalam hati tidak sampai diucapkan, maka talaknya tidak jatuh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      ????? ??????? ????????? ???? ???????? ??? ????????? ???? ??????????? ? ??? ???? ???????? ???? ???????????

      Sesungguhnya Allah memaafkan pada umatku sesuatu yang terbetik dalam hatinya selama tidak diamalkan atau tidak diucapkan

      3. diucapkan dengan ancaman, jika dilakukan jatuh talak, jika tidak dilakukan maka tidak jatuh talak

      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), kata mengancam berarti (1) menyatakan maksud, niat, atau rencana untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, membahayakan, mencelakakan pihak lain; (2) memberi pertanda atau peringatan mengenai kemungkinan malapetaka yang bakal terjadi.    Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa mengancam adalah menyampaikan sesuatu yang akan merugikan pihak lain, baik disyaratkan dengan terjadinya sebuah peristiwa maupun tidak. Namun yang jelas sesuatu yang diancamkan belum dilakukan. Mungkin jadi dilakukan, mungkin juga tidak, tergantung pihak yang mengancam dan perkara yang disyaratkan. Boleh jadi, bila sekadar menakut-nakuti, ancaman itu tidak diwujudkan walau sesuatu yang disyaratkan telah terjadi. Berbeda halnya jika ancaman itu sebagai puncak kemarahan. Ancaman itu benar-benar dilakukan oleh si pengancam jika perkara yang disyaratkan telah terjadi. Dengan kata lain, ancaman hakikatnya adalah menyampaikan sesuatu yang akan dilakukan: mungkin jadi dilakukan, mungkin juga tidak.    Karena itu, ancaman tanpa syarat seperti ungkapan, “Saya tampar kamu!” bisa diartikan, “Akan saya tampar kamu!” Sedangkan aktivitas menamparnya belum dilakukan. Mungkin dilakukan, mungkin juga tidak. Begitu pula ancaman yang dipersyaratkan, “Kalau kamu pulang malam lagi, saya tampar kamu!” juga dapat diartikan “Kalau kamu pulang malam lagi, akan saya tampar kamu!”   

      Bila tujuan si pengancam mengatakan itu adalah menakuti-nakuti pihak yang diancam agar tidak pulang malam lagi, biasanya ia tidak jadi menamparnya walau si terancam pulang malam. Berbeda jika ia mengatakan itu sebagai puncak kekesalannya, tentu ia benar-benar menamparnya jika si terancam pulang malam. Walhasil, terwujudnya atau tidaknya ancaman, kembali kepada si pengancam.    Pertanyaannya, bagaimana dengan ungkapan seorang suami kepada istrinya, “Jika kamu memasukkan laki-laki itu lagi ke rumah, saya cerai kamu!” Apakah ia dapat menjatuhkan talak? Jawabannya, jika itu sebagai ancaman, tentu saja tidak jatuh. Sama halnya, orang yang mengancam akan menampar tadi. Orang yang diancam tidak otomatis tertampar hanya karena si pengancam mengatakan itu. Sebab, ancaman talak di atas dapat diartikan, “Jika kamu memasukkan laki-laki itu lagi ke rumah, akan saya cerai kamu!” Terlebih jika tujuan ancaman itu sekadar menakut-nakuti dan tak bermaksud menjatuhkan talak, si suami tidak jadi menceraikan walau si istri benar memasukkan laki-laki itu lagi ke rumah. Dikecualikan jika ungkapan itu sebagai puncak kemarahan, ia benar mencerainya setelah diketahui istrinya melakukan hal tersebut. Namun, talaknya tetap harus diucapkan lagi, karena yang tadi hanya sekadar ancaman.    Walhasil, ancaman adalah satu ungkapan yang mengacu kepada perbuatan yang dilakukan di masa mendatang, sehingga dapat disisipi kata akan. Dalam bahasa Arab, kata kerja yang bisa disisipi kata akan salah satunya adalah fiil mudhari ?(dalam bahasa inggris: present continuous atau present future tense, red). Sementara ungkapan talak dengan fiil mudhari tidak dianggap jatuh, sebagaimana petikan berikut.  

      ????? ?????: ??? ??????? ???????? ??? ???? ?? ????? ????? ??? ??? ?????? ??? ?????? ???? ?? ??? ???? ???: ???????? ?? ??? ????? ???: ??? ????? ?? ??? ?????? ???: ??? ?????. ???? ??????? ??? ??? ????? ??????? ??? ????? ??????? ?? ?????? ???: ?????? ??????.  

      Artinya: “Ungkapan-ungkapan sharih (tegas) adalah ungkapan-ungkapan yang dibuat untuk tujuan menjatuhkan talak, di mana ia tidak memiliki makna selain makna talak. Ungkapan sharih adalah ungkapan yang mengandung kata talak itu sendiri, fi‘il madhi yang diderivasi dari kata itu, seperti ungkapan thallaqtuki (Saya [telah] menalak/menceraikan kamu); isim fiil bermakna maf‘ul, seperti anti thaliq (Kamu [telah] tertalak); atau ism maf‘ul, seperti anti muthallaqah (Kamu [telah] ditalak). Semua ungkapan itu menunjukkan jatuhnya talak. Namun dikecualikan kata talak dalam bentuk fi’il mudhari seperti tathluqin (Engkau akan tertalak), dan fiil amr seperti Uthluqi (Talaklah engkau!)" (Al-Fiqh al-Muyassar fi Dhau al-Kitab wa al-Sunnah, [Madinah: Majma Malik Fahd], 1424, jilid 1, hal. 313).    Bahkan, ancaman yang benar-benar diwujudkan pun dinyatakan dengan fiil mudhari. Contohnya ancaman Qabil kepada membunuh Habil.   

      ????? ?????????????? ????? ???????? ??????????? ??????? ???? ?????????????   

      “Qabil berkata, 'Aku benar-benar akan membunuhmu!' Habil menjawab, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) orang-orang yang bertakwa',” (QS al-Mai’dah [5]: 27). 

       Ini artinya ancaman tidak sampai menjatuhkan talak. Sebab, ancaman mengandung makna mustaqbal (masa mendatang) yang biasa diungkapkan dengan fiil mudhari. Sedangkan fiil mudhari bukan redaksi menjatuhkan talak.    Sekilas, ungkapan “Aku cerai kamu!” atau “Jika kamu memasukkan laki-laki itu lagi ke rumah, saya cerai kamu!” seperti ungkapan sharih. Sedangkan ungkapan sharih dihukumi jatuh walaupun tidak disertai niat. Namun, akibat perbedaan sistem bahasa Arab dan sistem bahasa Indonesia, keduanya terlihat sama. Padahal, jika maksudnya sebagai ancaman, mestinya berbunyi, “Akan kucerai kamu!” sebagaimana ancaman dalam bahasa Arab yang diungkapkan dengan fiil mudhari. Sayangnya, dalam bahasa lisan, kata akan seringkali dilesapkan.   

      Kemudian, jika ingin dianggap ungkapan sharih, ungkapan itu harus berbunyi, “Aku [telah] menceraikanmu.” Namun, dalam bahasa lisan, kata telah seringkali dilesapkan, dan kata menceraikan disingkat menjadi ceraikan. Sehingga tak salah pula jika ada yang mengatakan bahwa ungkapan yang ini seperti ungkapan kinayah yang talaknya tidak jatuh bila tanpa niat, karena mengandung beberapa kemungkinan makna.    Karenanya, jika ungkapan itu ingin menjadi ungkapan sharih, harusnya berbunyi,

      “Aku menjatuhkan talak kepadamu bila kamu memasukkan laki-laki itu lagi ke rumah,” tanda bernada ancaman atau pertanyaan. Sulitnya, bahasa lisan itu bisa ditarik kepada makna lain sesuai dengan intonasinya. Contohnya, “Jika kamu begitu lagi, saya cerai kamu!” (diakhiri tanda seru sebagai tanda ancaman).

      Atau, “Jika kamu begitu lagi, saya cerai kamu.” (diakhiri tanda titik, sehingga mirip ungkapan sharih, “Saya menceraikanmu.”). Atau, “Jika kamu begitu lagi, saya cerai kamu?” (diakhiri tanda tanya, sehingga tak menjatuhkan talak).   

      Tapi, tak sedikit pula orang yang menganggap bahwa ungkapan “Jika kamu begitu lagi, saya cerai kamu!”

      ini sebagai ungkapan talak ta’liq sharih, yakni talak yang dipersyaratkan atau digantungkan jatuhnya pada perkara lain. Hal ini tak lain disebabkan oleh kemiripan di atas, sebagaimana yang telah dijelaskan.  

      Namun inilah pendapat yang dapat kita pilih saat ini di tengah banyaknya orang yang dengan mudahnya mengumbar ancaman talak. Sebab, jika ancaman talak dianggap menjatuhkan talak, berapa banyak orang yang jatuh talaknya. Padahal, kebanyakan dari mereka sesungguhnya sekadar menyimpan motif mengancam alias menakut-nakuti, bukan benar-benar berencana untuk bercerai.   Hanya saja sebagai bentuk kehati-hatian, agar keluar dari pendapat orang yang mengatakan ungkapan “Saya cerai kamu!” ini sebagai ungkapan sharih, maka sebaiknya para suami lebih arif dan bijak dalam melontarkan kata-kata talak atau cerai. Sebab, dalam urusan nikah, talak, dan rujuk, bercanda atau sendau gurau pun dianggap seriaus (HR Ibnu Majah).   

      Begitu pula jatuhnya talak orang yang sedang marah:  

      ??????? ??? ???? ???? ??????? ??? ???? ???? ????? ??????  

      Artinya, “Para ulama sepakat akan jatuhnya talak orang yang sedang marah, meskipun ia mengaku hilang kesadaran akibat kemarahannya” (Syekh Zainuddin al-Maibari, Fathul Mu‘in, (Terbitan: Daru Ihya al-Kutub, hal. 112). 

      Adapun dalil ancaman talak tidak sampai menjatuhkan talak adalah ayat-ayat Al-Qur’an tentang ancaman Allah. Dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, Allah tidak wajib menjatuhkan perkara yang diancamkan-Nya. Dan itu bukan sebuah cacat, bukan pula sebuah kebohongan bagi-Nya manakala Dia tidak mewujudkan ancaman-Nya.  

      Berbeda halnya dengan janji. Allah pasti memenuhi janji-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji,” (QS Ali ‘Imran [3]: 9);

      “(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS al-Rum [30]: 6).   

      Artinya, Dia akan memberi kebaikan kepada orang yang dikehendaki-Nya, Dia akan memberikan balasan surga kepada orang-orang mukmin, sesuai dengan janji yang telah disampaikan melalui lisan nabi atau kitab-Nya. Karena itu, kita tidak boleh beranggapan bahwa Allah akan menyalahi janji.    Hal itu tidak pula bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan, Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku, (QS Qaf [50]: 29).   

      Ayat di atas memberikan kesimpulan bahwa yang dilarang adalah mengubah keputusan tentang ancaman bagi orang-orang kafir atau tentang orang-orang yang dikehendaki Allah tidak mendapat ampunan. (Lihat: Dr. ‘Ali Jumu‘ah, ‘Aqidah Ahl al-Sunnah [Kairo Darul Maqtham], 2011, cet. kelima, hal. 31). 

      Semoga dapat membantu

      Wallahua'lam

  • Minggu, 07 Juni 2020 Dadang says :

    Assalamualaikum salam hormat saya dari bandung ingin bertanya permasalahnnya yaitu saya digugat cerai sama istri saya dengan alasan merasa tidak cocok lagi yang ingin saya tanyakan yaitu: 1. Apakah istri saya masih punya hak harta gono gini padahal dia sendiri yang mencari masalah dengan saya yaitu berawal dari seringnya istri saya tidak menyukai ibu saya padahal selayaknya seorang istri yang baik seharusnya memperlakukan mertua itu sama dengan orang tuanya sendiri kemudian dia pergi dari rumah disaat saya sedang bekerja dan kabarnya sekarang dia tinggal kost (tidak pulang ke rumah orang tuanya) apakah perbuatan tersebut bisa dikatakan nusuz kepada suaminya dan membatalkan hak gono gininya ? 2. istri saya sudah 2 kali kedapatan selingkuh walaupun selingkuhnya hanya melalui media sosial ( melalui chat bb dan wa) dan itu sudah saya maafkan terus sepertinya kemungkinan sekarang diulang lagi disaat dia tidak tinggal lagi serumah dengan saya , apakah kasus ini juga bisa menghilangkan hak gono gininya demikian pertanyaan dari saya terima kasih sebelumnya atas jawabannya

    • Admin says :

      Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuhu.

      Semoga Allah memberikan yang tebaik buat kita semua terutama buat saudara Dadang dan keluarga.

      Dalam hal permasalah rumah tangga yang saudara tanyakan, maka dapat kami jawab sebagai berikut:

      1. Apakah istri saya masih punya hak harta gono gini padahal dia sendiri yang mencari masalah dengan saya yaitu berawal dari seringnya istri saya tidak menyukai ibu saya padahal selayaknya seorang istri yang baik seharusnya memperlakukan mertua itu sama dengan orang tuanya sendiri kemudian dia pergi dari rumah disaat saya sedang bekerja dan kabarnya sekarang dia tinggal kost (tidak pulang ke rumah orang tuanya) apakah perbuatan tersebut bisa dikatakan nusuz kepada suaminya dan membatalkan hak gono gininya ?

      Saudara dadang kepada istri yang nusyus mereka punya hak harta gono gini. 

      Penjelaannya:

      Membangun mahligai rumah tangga bahagia dan harmonis adalah impian semua orang. Tidak pernah ada yang berharap rumah tangga mereka rusak. Akan tetapi tidak ada pula rumah tangga tersebut yang aman serratus persen. Selalu saja ada berbagai persoalan yang akan dihadapi. Maka keutuhan rumah tangga hanya bisa dipertahankan ketika kedua belah piha  pasangan suami istri memang memilii komitmen yang kuat dalam diri mereka. Bagi yang tidak memiliki komitmen, maka berbagai persoalan, seperti seringnya  bertengkar, KDRT, hilangnya rasa kecocokan hingga perselingkuhan sering jadi sumber masalah keretakan kehidupan rumah tangga yang berujung perceraian.

      Akan tetapi, urusan perceraian bukan hal sederhana. Ada konsekuensi (akibat) hukum dalam sebuah perceraian. Misalnya, pembagian harta bersama (gono gini), hak asuh anak, nafkah anak dan nafkah istri. Timbul pertanyaan, bagaimana proses gugatan di pengadilan agama dan pengadilan negeri; bisakah gugatan perceraian dan harta gono-gini, digabung?

      Pasangan suami istri (pasutri) yang beragama Islam berdasarkan UU Peradilan Agama boleh mengajukan permohonan cerai talak atau cerai gugat disertai pembagian harta gono gini di pengadilan agama, sehingga proses persidangannya dilakukan bersama-sama. “Boleh setelah (diputus) cerai, baru mengajukan harta gono gini boleh diajukan secara bersama-sama. Ini pilihan,”

      Dasar hukum perceraian dalam Islam diatur Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 132 ayat (1) jo Pasal 88 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Soal penggabungan gugatan, ada dua format gugatan yang biasa digunakan.

       Pertama, sidang harta bersama didahului dengan putusan pengadilan tentang putusnya hubungan perkawinan karena perceraian yang telah berkekuatan hukum tetap. Kemudian diajukan gugatan harta bersama. Keduabisa dilakukan penggabungan antara gugatan cerai dan gugatan harta bersama secara bersama-sama.

       “Tapi prakteknya, seringkali dilakukan sidang cerai dulu, baru diajukan gugatan harta bersama agar proses cerai lebih cepat dibanding kasus cerai yang digabung dengan gugatan harta bersama,”

      Soal penggabungan gugatan cerai dan harta bersama, diatur Pasal 86 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 sebagaimana diubah dengan UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 7 Tahun 1989. Beleid itu menyebutkan gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah istri dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap (inkrach).

      Pasal 86

      Gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama suami istri dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian ataupun sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap. Jika ada tuntutan pihak ketiga, maka Pengadilan menunda terlebih dahulu perkara harta bersama tersebut sampai ada putusan pengadilan dalam lingkungan peradilan umum yang memperoleh kekuatan hukum tetap tentang hal itu.

      Tidak ada batasan waktu terkait berapa lama setelah cerai baru membagi harta gono-gini. Namun, tidak disarankan menunda-nunda pembagian harta gono-gini setelah selesainya rangkaian persidangan perceraian tersebut.

      Ada tiga jenis harta kekayaan dalam perkawinan yang dapat menjadi objek sengketa ketika terjadi perceraian:

       Pertama, harta bawaan, yang dibawa calon suami dan calon istri. Harta tersebut diperoleh sebelum mereka melangsungkan perkawinan. (Pasal 35 UU Perkawinan). Untuk jenis harta ini dikuasai oleh suami-istri.

       Kedua, harta masing-masing suami istri yang diperoleh melalui warisan, hibah, wasiat, hadiah dalam perkawinan. Jenis harta ini-pun penguasaannya ada pada masing-masing suami-istri.

       Ketiga, harta bersama (harta gono-gini), yakni harta yang diperoleh suami atau istri secara bersama-sama selama masa perkawinan.

      Jika terdapat perjanjian kawin tidak menyebutkan adanya penggabungan harta bawaan, berarti (secara otomatis) harta bawaan suami dan istri terpisah. Karenanya, tidak bisa menjadi objek harta yang dipersengketakan, sehingga menjadi harta bawaan tetap menjadi milik masing-masing.

       Sementara harta bersama, jika tidak ada perjanjian kawin, maka harta tersebut otomatis tergabung sebagai harta bersama. Sebaliknya, jika ada perjanjian kawin yang memisahkan harta perolehan suami dan istri selama perkawinan, maka objek harta gono-gini (harta bersama) menjadi hilang.

      2. istri saya sudah 2 kali kedapatan selingkuh walaupun selingkuhnya hanya melalui media sosial ( melalui chat bb dan wa) dan itu sudah saya maafkan terus sepertinya kemungkinan sekarang diulang lagi disaat dia tidak tinggal lagi serumah dengan saya , apakah kasus ini juga bisa menghilangkan hak gono gininya ?

      hak harta gono gini tidak hilang dan pembagiannya akan dilakukan sesuai dengan kesepakatan atau keputusan pengadilan. akan tetapi sebelum melakukan pembagian harta gono gini, maka disarankan untuk mendudukkan dulu status hartatersebut terlebih dahulu sebagaimana yang sudah dibahas diatas,

      semoga jawaban ini dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga yang sedang saudara alami.

      Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

  • Jumat, 17 April 2020 Adri budiarto says :

    Assalammualaikum , Saya disini ingin mendapatkan solusi atas permasalahan rumah tangga saya saat ini , karna sebelum saya mengambil tindakan ingin menggugat istri saya ke pengadilan saya ingin dapat pencerahan dan jawaban agar keputusan apapun nantinya tidak jadi penyesalan dalam diri saya Saya menikah pada tgl 08-04-2016 yg klw dihitung usia pernikahan baru berjalan 4 tahun , awalnya mmg hubungan saya bisa dikatakan bahagia karna tidak ada perselisihan , setelah berjalan 1 tahun disinilah awal masalah keuangan muncul karna pada saat itu saya sebagai suami hanya bekerja harian dengan penghasilan kecil yg jauh jika dibandingkan penghasilan istri saya , dan saat itu istri saya berkata bahwa penghasilannya habis untuk rumah tangga ini yg seharusnya saya sbgai suami yg berperan disini , kok malah istri pula yg mencukupi nafkah dirumah kami , semenjak inilah saya memutuskan utk tidak lagi bertanya masalah penghasilan istri saya dan saya pun sejak saat itu juga begitu saya gajian saya langsung bayarkan segala cicilan yg bisa dikatakan jumlahnya membuat gaji saya tidak bersisa lagi , awalnya istri saya terima dengan keadaan seperti ini karna saya juga jujur klw gaji saya itu habis digunakan utk apa apa saja , cicilan rumah , cicilan pinjaman bank , pln , air , tapi akhirnya skrang ini yg jadi masalah terus menerus di rumah tangga kami , sampailah pada saat ribut istri saya mengucapkan bahwa selama pernikahan saya tidak pernah memberi nafkah , selama kita nikah dia sebagai istri yg menafkahi kel ini , terkadang sangking emosi dan marah nya saya , sering saya memukul main tangan sama istri saya dan istri saya juga membalas pukulan kepada saya dan sudah sering kali terjadi klw penyelesaiannya dengan dia pergi dari rumah dan pulang ke rumah orang tuanya dan selama kami menikah sudah 2 kali ayahnya menjemput istri saya dan membawa kerumahnya tapi yg dilakukannya saat ini menurut saya sudah kelewatan kali yg diperbuat istri saya , karna dia dijemput ayahnya keluar dari rumah kami dengan membawa semua isi rumah yg itu semua terjadi tanpa sepengetahuan saya begitu saya tau dari ibu saya bahwa rumah kosong karna istri saya udah pulang kerumah orang tuanya dengan alasan 3 hari sebelum itu semua iya lakukan bahwa saya sudah menceraikannya lewat pesan singkat whatsapp dan 1 hari sebelum iya keluar dari rumah iya mengatakan saya sudah mengusirnya dari rumah karna malam itu dia bertanya kpda saya, yakin ayah sama keputusan ayah ? Yakin jawab saya pada saat itu , klw mmg yakin kembalikan semua hak hak kami ? Dan saat itu saya menjawab hak kalian yg mana yg ayah ambil , ooo harta, barang atau apa ! Ambillah semuanya , bawalah ! Ok jika itu keputusannya krmbalikan juga saya kpd orangtua saya baik baik seperti saat mengambil saya dahulunya , ok nanti saya lakukan jawab saya pada saat itu , dari semua alasan itulah dia membenarkan apa dan ayahnya lakukan dengan pergi tanpa saya tau dan membawa semuanya Tapi sebelumnya juga ada unsur orang ketiga yaitu seorang teman wanita saya yg saya anggap sebagai teman curhat disaat pertengkaran rumah tangga sedang saya hadapi , memang semua itu saya akui salah saya kenapa ada perempuan lain , kenapa harus melakukan kekerasan yg gak seharusnya saya lakukan , tapi mmg istri saya sudah keterlaluan ,hampir tiap hari saya makan hati , klw pulang larut saya dibilang melonte , klw dihubungi ternyata dirumah orang tua atau teman saya dibilang gak sayang anak istrilah , semua yg saya lakukan salah dimatanya , bahkan saat dia tau ada wanita lain yg berteman dengan saya , saat itu juga dia mencaci maki saya dengan mengatakan laki laki murahan , aku klw mau tau gak , kamu taukan manager aku ! Udahlah muda ,ganteng , dan punya segalanya itu pernah ngungkapin prasaannya suka sama aku , tapi apa yg aku lakukan , menolaknya ! Mmg dasar laki laki gak tau diri mu jadi suami Dan inilah sedikit banyaknya permasalahan yg saya alami sekarang dengan keadaan sekarang sudah genap 3 bulan istri saya dan anak anak tinggal dirumah orang tua nya Dengan kejadian seperti ini apa yg harus saya lakukan ? Saya hanya berfikir dampak buruknya nanti kpda anak anak saya yg masih kecil jika saya berpisah Tapi klw lah bersatu saya juga tidak sanggup dengan sikap istri seperti itu Kalaupun ingin bersatu istri saya juga minta agar saya dan kel besar saya datang kerumah nya menjemput untuk membawa dia pulang , padahal jelas jelas disini dia yg keluar tanpa setau saya suaminya dan itu sudah sering terjadi Saya disini meminta jawaban dan pencerahan untuk masalah rumah tangga saya ini agar tidak ada penyesalan nantinya , sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    • Admin says :

      Waalaikum Salam WarahMatullahi WabarakatuhuSalam buat Saudara Adri.

      Semoga Saudara selalu dalam lindungan Allah SWT.

      Pada prinsipnya tidak ada salah benar dalam situasi di mana gaji suami lebih kecil dari istri. Selama pasangan memang sama-sama memiliki komitmen bahwa upaya dalam meraih penghasilan sebesar-besarnya adalah untuk kesejahteraan keluarga. Mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan penghasilan dalam mencukupi kebutuhan keluarga, dan bersedia untuk saling memahami dengan kondisi yang ada.

      Namun umumnya ketika pasangan suami istri tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memelihara keluarga, maka kondisi ini malah sering kali menimbulkan konflik sebagaimana yang saudara alami. budaya di Indonesia dan seringkali menganggap bahwa laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarga, sehingga ia dituntut sebagai tulang punggung keluarga dan seakan merasa ada tuntutan untuk memiliki penghasilan lebih dari istrinya. Laki-laki yang memegang teguh nilai ini bisa saja jadi mengalami perasaan tidak nyaman ketika penghasilan pasangan lebih rendah dari istri, dan menjadi rendah diri. Begitu juga dengan perempuan yang memiliki nilai ini, bisa membuat istri menjadi sombong, merasa lebih berkontribusi lebih dalam keluarga, dsb.

      Dalam kesempatan ini saya akan memberikan sedikit gambaran kepada saudara tentang bagaimana bersikap dalam kondisi yang saudara alami.

      Sudah jamak diketahui bahwa nafkah merupakan tanggung jawab dan kewajiban suami. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagi istri untuk bekerja dengan tujuan membantu ekonomi keluarga, di samping penghasilan suami. Ada yang menjadi perempuan karir, berbisnis, membuka usaha rumahan, mengisi seminar, jasa les privat, dll.

      Apalagi di era yang serba digital ini, banyak sekali pekerjaan yang tidak membutuhkan keluar rumah, atau pergi ke kantor. Cukup bermodalkan smartphone, akun media sosial, dan foto-foto menarik untuk mempromosikan barang dagangan mulai dari jualan baju, buku, makanan, sampai ke perabotan rumah tangga.

      Sebagian dari usaha ini menjadikan istri mandiri, dan tidak jarang menjadikan istri memiliki penghasilan yang lebih besar dari suami. Bagaimanakah jika ini terjadi? Bagaimana status penghasilan istri tersebut? Apakah istri harus berhenti bekerja sebagai bentuk penghormatan kepada suami sebagai kepala rumah tangga?

      Sudah maklum bahwa suami adalah pengayom dan pelindung keluarga. Disebut juga pemimpin karena kelebihannya dari perempuan, dan kewajibannya dalam menafkahkan hartanya untuk keluarganya sebagaimana tertera dalam Q.S. An-Nisa’; 34. Istri sebagai pendamping suami sejatinya memiliki dua hak, yaitu mahar dan nafkah. Hal ini sebagaimana tertera dalam Q.S. An-Nisa’: 4 sebagai kewajiban mahar bagi suami kepada istri, dan Q.S. Al-Baqarah: 233 sebagai berikut;

      ??????? ???????????? ???? ??????????? ??????????????? ??????????????

      Artinya: “Dan merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

      Oleh sebab nafkah istri merupakan tanggung jawab suami, sejatinya harta istri adalah milik ia sendiri. Itu merupakan hasil usahanya yang tidak diwajibkan untuk diberikan kepada suami
      ataupun keluarga. Allah swt berfirman dalam Q.S. An-Nisa: 32;

      ????? ???????????? ??? ??????? ??????? ???? ?????????? ????? ?????? ??????????? ??????? ?????? ??????????? ????????????? ??????? ?????? ??????????? ??????????? ??????? ???? ???????? ????? ??????? ????? ??????? ?????? ???????

      Artinya; “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mengetahui Segala Sesuatu.” (Q.S. An-Nisa: 32)

      Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap suami atau istri memiliki hak atas apa yang telah diusahakanya melalui bekerja. Harta istri adalah hartanya, Begitu juga dengan harta suami adalah miliknya. Akan tetapi karena suami memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarga, maka harta suami diberikan kepada istri dan anak untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Istri dalam hal ini boleh saja menolak membelanjakan hartanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena sejatinya hal itu merupakan tanggung jawab suami.

      Hal ini menjadi berbeda apabila ditinjau dari substansi pernikahan yang sejatinya bukan lagi tentang individu, tetapi tentang kerjasama antara suami dan istri. Oleh karena penghasilan tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri hendaknya juga secara sukarela memberikan sebagian usahanya untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipu demikian, kondisi ini tidak menjadikan gugurnya kewajiban suami sebagai pemberi nafkah sebagaimana yang diperintahkan.

      Dengan demikian, karena penghasilan istri menjadi penopang dan membantu ekonomi keluarga, istri tidak perlu berhenti bekerja. Suami pun tidak perlu minder karena penghasilannya lebih sedikit. Satu dengan yang lain adalah mitra untuk mewujudkan keluarga bahagia yang harmonis dan berkecukupan. Suami hendaknya tetaplah mendukung, dan istri tetap hormat kepada suami karena sejatinya pernikahan bukanlah soal transaksi, bukan soal pembagian tugas individu melainkan kerjasama satu dengan yang lain.

      Akan tetapi ketika masing-masing pihak kurang komitmen dan pemahaman tentang persoalan ini, maka seringkali masalah ekonomi ini merebak pada masalah-masalah lain. Masalah semakin melebar pada sikap dan prilaku, emosi yang tak terkendali, pertengkaran, bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Komunikasi menjadi semakin buruk bahkan terputus. Kondisi ini akan memperburuk keadaan. Ketika masalah rumah tangga sudah sampai pada tindakan-tindakan tersebut, biasanya akan lebih diperburuk dengan masuknya pihak ke tiga sebelum pasangan suami istri tersebut mengupayakan mengkomunikasikan masalah ini berdua.

      Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah, sbb:

      1. Upayakan komunikasi seimbang dengan pasangan jika perlu saudara bias melakukannya dengan bantuan BP4 setempat dimana saudara tinggal.
      2. Lakukan pendekatan emosional (+) yang bersifat personal kepada pasangan dengan ungkapan bahwa kita masih saling menyayangi dan ingin memperbaiki keadaan.
      3. Tidak ada salahnya mengalah dan menekan ego kita untuk melembutkan hati pasangan.
      4. Tidak merendahkan atau meninggikan salah satu pihak yang memiliki penghasilan lebih tinggi atau rendah. Selayaknya sebuah perkawinan, hubungan suami istri merupakan relasi setara, tidak ada yang dianggap lebih rendah atau tinggi hanya karena jumlah penghasilan.
      5. Buat kesepakatan bagaimana masing-masing pihak dapat berkontribusi terhadap kebutuhan rumah tangga dengan kondisi keuangan yang ada, dengan cara mengatur kembali pembagian pengeluaran kebutuhan di dalam keluarga. Misalnya, apakah seluruh pengeluaran total kebutuhan rumah tangga akan dibagi 50 :50 antara suami dan istri. Atau misalnya suami membayar pengeluaran untuk tagihan-tagihan listrik, air, telepon, tv, dsb, sementara istri membeli kebutuhan harian rumah tangga.
      6. Yakinkan pasangan bahwa saudara akan berusaha lebih maksimal dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
      7. Jika jumlah penghasilan Anda berdua memang tidak mencukupi untuk semua kebutuhan, diskusikan kembali mana kebutuhan yang memang harus dikeluarkan (kebutuhan pangan, listrik, air), bisa disesuaikan (langganan tv kabel, pulsa bulanan, dsb) atau bisa dikeluarkan dari list kebutuhan (terkait dengan gaya hidup, seperti frekuensi makan di luar, rokok, dsb).
      8. Bagaimanapun nantinya Anda dan pasangan mengatur keuangan, keterbukaan akan pemasukan dan pengeluaran menjadi hal penting untuk dilakukan. Terutama jika ada pemasukan atau pengeluaran di luar hal yang sudah rutin.

      Semua masalah akan bisa teratasi ketika kedua pihak sama-sama menyadari peran dan fungsi masing-masing dalam keluarga. Kedua pihak mamahami hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Kedua pihak memahami bahwa membangun sebuah keluarga harus di landasi dengan cinta kasih dan komitmen yang kuat antara kedua pasangan. Buktinya berapa banyak orang dengan ekonomi yang sangat terbatas, tetapi mereka tetap bisa hidup rukun. Ekonomi bukanlah alasan yang baik untuk dijadikan modal merusak rumah tangga.

      Semoga saudara dapat merajut kembali hubungan rumah tangga menjadi lebih baik. Berusaha dan berdoa kepada Allah semoga Allah beri kemudahan.

      Salam Bahagia

       

  • Selasa, 24 Desember 2019 Linda Nuriawati says :

    Suami saya berselingkuh dengan bergonta ganti pasangan. Setelah saya tahu dia meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi, bahkan kami sudah membuat surat perjanjian bahwa dia tidak akan mengulanginya lagi. Tapi jujur hati saya sangat sakit, ingin memperbaiki tapi terkadang terasa tidak kuat. Dia juga masih kedapatan sering berbohong dan sering pergi keluar kota. Sulit komunikasi dengan alasan sibuk. Saya ingin sembuh

    • Admin says :

           Siapa sih yang berharap memiliki suami yang selingkuh? Saya yakin tidak ada wanita yang berharap seperti itu. Tapi, seandainya seorang wanita mendapatkan musibah seperti itu, apa yang harus ia lakukan? Simak yang berikut ini: Pertanyaan: Suamiku punya hubungan haram dengan seorang wanita sejak sekitar setahun yang lalu, dan sekarang wanita itu hamil karenanya! Dan aku juga hamil. Apakah aku meninggalkan suamiku itu atau tetap bersamanya? Sesungguhnya wanita itu pecandu narkoba, karena itu kelak pengasuhan anak yang dikandungnya itu jatuh ke tangan bapaknya dan karenanya tentu saja akan dibawa kepadaku. Apakah wajib atasku untuk memperhatikan dan mendidik anaknya itu nanti? Jawaban: Segala puji bagi Allah

           Pertama: Dalam syariat yang disucikan ini telah diketahui secara pasti akan keharaman zina dan bahwasanya itu termasuk dosa besar. Karena itu, orang yang terjatuh ke dalam dosa ini harus bertaubat kepada Allah sebelum waktunya terlambat. Dan haramnya perbuatan zina ini makin bertambah jika yang melakukannya adalah seorang pria yang sudah menikah. Karena itu hukuman bagi pelakunya adalah rajam hingga meninggal. Lihatlah jawaban terhadap pertanyaan no. 97884 Jika memang telah jelas bagimu terjatuhnya suamimu ke dalam perbuatan zina, baik itu dengan pengakuannya atau dengan bukti syari yang menunjukkan itu, maka nasehatilah ia agar bertakwa kepada Allah, ia harus segera menghentikan hubungan haram dengan wanita itu dan juga memperbanyak amal saleh serta bersemangat untuk mencari teman-teman baik yang bisa menunjukinya kepada kebaikan dan ketaatan serta mengingatkannya dari kejahatan dan kemaksiatan.

           kedua: Tidak boleh seorang wanita menikah dengan seseorang yang dikenal berbuat zina kecuali setelah ia bertaubat dengan jujur. Dan siapa yang menikah dengan seorang pria pezina, maka ia berdosa dan akad nikahnya pun batil. Dan siapa yang menikah dengan pria yang menjaga kehormatan (bukan pezina)lalu setelah menikah ternyata pria tersebut terjatuh ke dalam perbuatan zina, maka akadnya tidak batal hanya karena terjatuhnya ia ke dalam zina. Akan tetapi, bukan berarti seorang istri menerimanya sebagai suami jika ia tidak meninggalkan perbuatan zina tersebut. Karena itu, kami berpendapat tentang permasalahanmu-wahai saudari penanya-, jika memang suamimu itu tidak menghentikan perbuatannya tersebut, maka jangan teruskan ikatan pernikahan dengannya. Bahkan, bersegeralah menghentikan ikatan pernikahan dengannya, baik dengan cara perceraian atau khulu' (perceraian atas permintaan istri dengan membayar sejumlah uang atau mengembalikan mahar yang diterimanya). Dan perlu engkau ketahui, bahwa berlanjutnya seorang suami dalam berbuat zina memberikan efek negatif bagi keluarganya yaitu istrinya dan anak-anaknya dari sisi perilaku dan kesehatan. Karena itu, jangan pertaruhkan dirimu dengan terus bersamanya jika ia tidak berhenti dan meninggalkan kemaksiatannya.

           Ketiga: Karena engkau tidak tinggal di negara islam dan undang-undang di negaramu itu mewajibkan seorang yang berzina memasukkan anak hasil perzinaannya ke dalam nasabnya dan mewajibkan juga menanggung nafkah dan memeliharanya, maka dalam hal ini tidak wajib bagimu-secara syariat-membantu, memelihara dan menyusuinya. Walaupun itu anak dari pernikahan sah antara suamimu dengan wanita lain. Kecuali jika engkau mau melakukan itu karena keridaan dan kerelaanmu, (maka itu baik). Berkata Ibnu Qudamah: "Sesungguhnya suami tidak bisa memaksa istrinya untuk menyusui anaknya dari selainnya dan tidak pula bisa memaksanya untuk membantunya  dalam perkara yang merupakan kekhususannya. "(Al-Mughni: 9/313)

       ????? ????? ??? ???? ???? ?? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? : ( ??????????? ? ) ?????? : ?????? ? ????? ( ??????? ???? ???????? ? ) ?????? : ???? ???????? ????? ( ??????? ????????? ???????????? ????????????? ) ?????? : ????? ??? ????????? ???????????? ???? ??????????? ????????? ????????????? ??????????????? ????????? ??????????? . ??????? ( 1991 ) ????? ( 715 ) .

           Dari Jabir bin Abdillah dari Rasulullah ?????? ??????? ???????? ?????????. Beliau bersabda kepadanya, "Engkau sudah menikah? " aku (Jabir)menjawab, "Ya, sudah" Beliau bertanya lagi, "Dengan gadis atau janda? " Aku menjawab, "Dengan janda. " Beliau pun bersabda, "Mengapa engkau tidak menikahi gadis sehingga engkau bisa mencumbuinya dan dia pun bisa mencumbuimu? " Aku jawab, "Sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Karena itu, aku ingin menikahi seorang wanita yang bisa mengumpulkan, menyisir dan mengurus mereka. " (HR. Bukhari no. 1991 dan Muslim no. 715)

       ??? ?????? – ???? ???? - : ???? : ???? ???? ?????? ????? ??????? ?????? ?????? ? ???? ?? ??? ????? ??? . " ??? ???? " ( 5 / 203 ) . ???? ??? ????? ??????? – ???? ???? - : ???? : ???? ???? ?????? ????? ??????? ??????? ?????? ? ???? ?? ??? ??? ????? ?? ???? ?? ?????? ??? ? ??? ??? ??? ?? ??? ????? ????? ????? ?????? . " ??? ??????? " ( 7 / 112 ) .

      Berkata An-Nawawi: "Dalam hadits ini terdapat dalil akan bolehnya seorang wanita membantu suaminya dan anak-anak suaminya serta keluarganya dengan keridaan darinya (wanita tersebut). Adapun tanpa keridaan darinya, maka tidak boleh. " (Syarh Shahih Muslim: 5/203) Berkata Waliyuddin Al-'Iraqi, "Dalam hadits ini terdapat dalil akan bolehnya seorang wanita membantu suaminya dan anak-anak suaminya dan juga saudara-saudara perempuan suaminya serta keluarganya. Dan juga dalil akan bolehnya seorang pria menikahi seorang wanita untuk tujuan itu, walaupun itu tidak wajib atas wanita. Hanya saja itu dilakukan sesuai keridaannya. " (Tharhu Ats-Tatsrib: 7/112)

       ?????? ?? ????? ?? : ??? ??? ?? ??? ???? ? ????? ?? ?? ???? ?? ??? ????? : ?? ??????? ? ??????? ????? . ??? ?? ??? ?? ??? ? ???? ?? ??? ??? ??? ?? ??? ? ???? ??? ??? ???? ???? : ???? ???? ??? ?? ?? ?????? ??? ? ?????? ??? ?????? ??? ??????? ???? ????? ? ??????? ? ??? ???? ?? ????? ???? ? ????? ?? ??? ???? ? ???? ??? ????? ?? ???? ???? ? ???? ?? ?? ???? ?????? ?????? ? ???????? . ????? ????

           Kesimpulan dari apa yang kami nasehatkan untukmu: Jika suamimu tidak bertaubat dan meninggalkan perbuatan zina, engkau harus berpisah dengannya dan meninggalkannya dan juga anaknya. Akan tetapi jika ia bertaubat dari perbuatan itu dan tampak bagimu bahwa ia menyesali apa yang telah ia perbuat serta kuat persangkaanmu bahwa keadaan suamimu itu makin baik, maka tak mengapa engkau melanjutkan ikatan pernikahan bersamanya. Dan kami nasehatkan engkau untuk menolongnya dalam memperhatikan dan merawat anaknya dari hasil hubungan haram itu. Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan pahala karena sebab itu dan menggantikan bagimu kebaikan dari-Nya. Dan semoga anak ini kelak baik keadaannya dibandingkan yang merawatnya dan mendidiknya adalah orang-orang yang jauh dari agama. Wallahu a'lam Sumber:

       

  • Senin, 07 Oktober 2019 Rachmi Kasman says :

    Assalammualaikum, pak mau tanya..klau rumah tangga sudah diujung tanduk apa solusinya pak?

    • Admin says :

      Waalaikum salam 

      saudari Rachmi, bisa jelaskan permasalahannya?